Selasa, 21 Oktober 2014

Indahnya Dunia jika Kita Pandai Bersyukur



                Ada beberapa orang yang berbeda dengan manusia biasanya. Mereka mempunyai kelainan fisik yang mungkin bisa mengancam kehidupan mereka. Penyakit yang mereka derita mungkin bukan penyakit biasa, namun tekadnya yang kuat membuat mereka terlihat menjadi luar biasa. Contohnya Amirah, dia gadis cantik dan pintar. Namun dibalik semua itu Amirah terserang penyakit ganas yang sudah merasuki sebagian tubuhnya. Yaitu kanker rahim. Entah darimana asalnya penyakit ganas itu datang.
Amirah telah merasakan kepahitan selama 3 tahun terakhir. Tubuhnya terasa lemah, untuk mengambil sesuatu yang berat saja harus membutuhkan bantuan orang lain. Tapi Amirah mempunyai semangat yang selalu melekat. Dokter bilang, Amirah hanya mempunyai waktu sekitar 2 bulan. Dan Amirah akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Namun itu hanya perkataan manusia, karena takdir Allah tak dapat diketahui oleh siapapun juga. Amirah selalu merenenungkan hidupnya yang hanya sementara.
Amirah tergolong orang berada. Rumahnya saja tak terhitung berapa luasnya dan kamarnya pun indah bagai istana. Tetapi tetap saja orang tuanya tak terlalu memikirkannya. Semenjak penyakit yang dideritanya berubah menjadi bahaya, orang tuanya sadar dan berusaha menemaninya walaupun hanya sebentar. Amirah sudah melakukan operasi sebanyak 2 kali, namun semuanya sia-sia. Tak tahu mengapa malah semakin bertambah parah.
Orang tuanya sempat ingin membawa Amirah ke Singapura, tapi Amirah menolaknya. Amirah menolak karena dia tak ingin menyusahkan orang lain. Sudah cukup 3 tahun dia membuat orang lain susah hanya karenanya. Lalu Amirah memutuskan untuk terapi rutin. Mungkin ini bisa mengurangi rasa sakitnya setiap hari.
Amirah memang anak baik-baik, setiap hari hanya sholat dan berdoa yang dapat ia lakukan. Walaupun badannya rapuh, tapi dia masih tetap bisa tersenyum sepanjang waktu. Karena menurutnya, kesedihan tidak dapat menghentikan sakit di dalam rahimnya. Amirah hanya ingin berserah diri, karena dia tau bahwa semua ini memang bukan keinginannya. Dibalik cobaan pasti ada hikmah yang tersimpan.
Suatu ketika Amirah pergi ke Rumah Sakit untuk memulai terapi rutin atas keinginannya. Setelah dia sampai di Rumah Sakit, Amirah melihat bahwa begitu banyak orang yang merasakan penderitaan seperti dirinya. Sebelum melakukan terapi, Amirah bertemu dengan seorang lelaki yang bertubuh tinggi,putih,badannya tegap, dan wangi. Lelaki itu tepat duduk di samping Amirah. Lelaki itu menyapa Amirah “hai” (dengan menjulurkan tangannya). Amirah pun menjawab “hai” juga.
Lelaki itu terus bertanya-tanya dengan Amirah. Ketika  itu mereka berkenalan. Ternyata lelaki itu bernama Rosyid. Rosyid bertanya kepada Amirah “Mengapa orang sehat sepertimu bisa melakukan terapi disini?bukankah ini terapi untuk penyakit serius?”. Lalu Amirah balik bertanya “Lantas, mengapa lelaki tegap sepertimu juga berada disini?”. Rosyid pun menjawab “ Aku tak tegap, mungkin kamu melihat aku seorang lelaki gagah seperti lelaki pada umumnya. Tapi sebenarnya tubuhku rapuh. Aku mempunyai kelainan jantung sejak 2 tahun lalu. Aku mencoba terapi ini semenjak 1 tahun terakhir, dan penyakitku tak kunjung sembuh. Tapi aku yakin bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik untukku. Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?”.
“Mungkin kamu menganggapku sebagai wanita sehat, wanita yang selalu riang dan melakukan aktivitas apa yang mereka mau. Tapi aku? Aku juga sama sepertimu. Aku terserang kanker rahim semenjak 3 tahun lalu. Aku sudah melakukan operasi sebanyak 2 kali, namun penyakitku malah bertambah parah. Aku ingin dibawa ke Rumah Sakit di Singapura, namun aku menolak karena aku tak ingin menyusahkan kedua orang tuaku. Akhirnya aku memilih terapi rutin ini. Aku baru memulai hari ini”cerita Amirah. Dan setelah Amirah bercerita banyak, Rosyid  bertanya lagi “Mengapa operasi yang kau lakukan sia-sia? Bukankah dokter di Jakarta hebat-hebat?”
Amirah tidak langsung menjawab. Tiba-tiba wajah Amirah murung, lalu dia menjawab”Entahlah. Aku kadang berfikir, mengapa cobaan berat ini menghampiriku. Padahal aku tak pernah melakukan kesalahan fatal sehingga Allah marah. Aku juga tidak pernah melakukan perbuatan terlarang yang memancing penyakit ini merasuki tubuhku. Memang dokter di Jakarta hebat-hebat, tapi mereka hanya manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Allah belum menghendaki aku sembuh, 1000 kali operasi juga sia-sia aku lakukan. Kalau boleh aku tahu, kamu tinggal dimana? Mengapa kamu memuji dokter di Jakarta?”.
Rosyid pun menjawab “Itu berarti Allah sayang kepadamu Amirah. Aku yakin dibalik cobaan yang sedang menghampirimu, Allah sedang memberikan sebuah kejutan. Sudah terlihat bahwa kamu berkelakuan baik, makanya aku ingin menyapamu. Sudah sekian lama aku tak berbicara banyak pada siapa pun. Aku hanya mengurung di kamar, karena aku takut menyusahkan teman-temanku. Di sekolah pun aku hanya berbicara seperlunya. Iya aku memang bukan berasal dari Jakarta, dulu aku tinggal di Surabaya. Namun karena aku melakukan terapi disini aku pindah rumah dan sekolah di Jakarta.”
Setelah mereka berdua berbincang-bincang, Amirah dipanggil oleh salah satu perawat untuk melakukan terapi. Dan Rosyid hanya tersenyum memberi semangat kepada Amirah. Tak disangka, ternyata masih ada lelaki yang perhatian seperti Rosyid. Amirah memang memutuskan untuk tidak bersekolah, namun dia tetap berusaha belajar walaupun hanya di rumah. Amirah tau bahwa sebuah impian akan tercapai jika kita mau berjuang. Amirah memang bukan wanita yang selalu berputus asa, karena Amirah mempunyai semangat yang tinggi. Ketika sehat, Amirah mempunyai cita-cita yang mulia, yaitu ingin menjadi seorang guru. Karena menurutnya, apalah arti sebuah pekerjaan jika tidak ada seorang guru. Guru adalah segala-galanya.
Setelah lama Amirah berada di ruang terapi akhirnya keluar juga. Amirah yang tadinya berwajah agak murung berubah kembali menjadi ceria. Amirah memang wanita riang yang tak menyimpan sebuah kepedihan. Makanya banyak lelaki yang menyangka bahwa Amirah adalah wanita sempurna. Amirah pun bertanya kepada Rosyid “Kapan kamu giliran masuk syid? Bukankah kedatanganmu lebih dulu daripada aku?”. Lalu Rosyid menjawab “Aku sudah terapi sebelum kamu datang. Aku hanya menunggu obat yang harus aku minum selama aku melakukan terapi”. Mereka berdua pun tertawa malu.
Amirah memang belum pernah merasakan ini sebelumnya. Baru pertama kali dia bertemu seorang lelaki tampan seperti Rosyid yang ternyata harus merasakan penderitaan sepertinya. Amirah sempat berfikir bahwa Rosyid telah membuat dia tambah bersemangat menjalani hidup. Amirah selalu menyimpan kata-kata Rosyid ‘Dibalik cobaan yang sedang menghampirimu, Allah sedang memberikan sebuah kejutan’. Hati Amirah semakin yakin bahwa penyakitnya adalah sebuah keindahan yang tertunda. Lalu Amirah pamit untuk pulang mendahului Rosyid.
Amirah memang tidak ingin mengurung diri di rumah. Karena menurutnya, hidup itu singkat. Jangan memanfaatkan hidup ketika kita mulai sekarat. Amirah selalu menghilangkan sebuah kejenuhan di sebuah taman. Taman yang bisa membuat Amirah semakin mengerti arti kehidupan. Di taman itu Amirah tidak sendiri, karena dia selalu ditemani sebuah buku diary. Buku yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Buku itu satu-satunya tempat curahan hati yang tahu apa yang Amirah rasai. Karena kepada siapa lagi Amirah bercerita selain Allah dan buku itu? Orang tuanya saja tak selalu ada di rumah. Untuk terapi saja, Amirah hanya ditemani oleh seorang supir dan Bude Maisaroh alias orang yang merawat Amirah sejak kecil. Bude Maisaroh juga salah satu orang yang tahu apa yang di derita Amirah saat ini, tapi Amirah tak ingin dia merasakan apa yang Amirah rasakan dan bersedih hati. Mereka memang sudah dekat, toh Amirah selalu bersamanya sejak kecil.
Selama di taman belum pernah ada orang yang menyapa Amirah. Padahal, Amirah selalu riang seperti wanita lain. Amirah memang tidak berharap ada orang yang menghampirinya, tapi dia hanya ingin terbuka dengan orang lain. Ketika Amirah ingin lekas pulang dari taman tersebut, seorang wanita cantik menghampiri dan berkata “Bolehkah aku duduk disampingmu wanita cantik?”. Lalu Amirah menjawab dengan penuh senyuman “Ini tempat umum ukhti.  Jika aku melarangmu duduk di sampingku, sama saja aku melarangmu merasakan indahnya taman ini. Silahkan duduk”.
 Wanita tersebut langsung memperkenalkan diri “Perkenalkan namaku Naurah Bilqis, panggil saja Naurah. Aku selalu melihatmu duduk di taman ini.  Hatiku tertarik untuk mengenalmu. Aku sering ke taman ini karena rumahku di sebrang sana.  Karena di sini aku selalu mendapatkan inspirasi”. Amirah menjawab “Senang berkenalan denganmu Naurah. Namaku Nazwatul Amirah, panggil saja aku Amirah. Aku juga sering ke taman ini, karena aku merasa tenang  ketika berada di sini. Rasanya aku melepas beban yang selama ini aku rasakan sepanjang hari”.
Naurah adalah wanita cantik dan sholehah. Dia selalu membawa seutas tasbih kemanapun dia berada. Menurutnya, tasbih bisa membuat dia tenang ketika hati mulai gelisah. Naurah bertanya-tanya kepada Amirah. Dan ujung-ujungnya pun Amirah menceritakan penderitaannya. “Aku sering ke tempat ini karena menurutku Allah telah menciptakan alam yang begitu indah. Sayangnya, aku tak dapat melihat semua keindahan alam yang diciptakannya karena penyakit ini” cerita Amirah dengan wajah sedikit sedih. “Maksudmu?penyakit? apa yang sedang kamu derita saat ini?” tanya Naurah penasaran.
“Sebenarnya aku tak pernah menceritakan soal ini kepada orang yang belum terlalu aku kenal. Karena kamu wanita baik, aku akan menceritakan kepedihan ini padamu. Aku terserang penyakit kanker rahim sejak 3 tahun lalu. Aku sudah mencoba melakukan 2 kali operasi namun hasilnya nihil. Aku mulai mencoba terapi rutin saat ini. Semoga saja bisa memperbaiki keadaanku. Jangan sampai penyakit ini merasuki tubuhmu. Tapi aku yakin kamu wanita sempurna Rah” cerita Amirah ke Naurah.
Ketika Amirah telah selesai bercerita, Naurah merasa ada sedikit keraguan. Mengapa Amirah bisa berkata seperti itu? Akhirnya Naurah mulai bercerita. “Kamu salah besar Amirah. Aku juga sedang melihat keindahan yang Allah ciptakan sebelum Allah mengambil nyawaku. Aku wanita lemah yang tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin kamu lebih sempurna dibanding aku. Aku terserang kanker otak stadium akhir. Umurku tinggal menghitung hari. Kadang aku telah pasrah atas semuanya, karena obat pun sia-sia aku konsumsi setiap hari. Banyak yang bilang bahwa aku tak mempunyai beban apapun, mungkin aku selalu berserah diri pada Allah. Karena Allah lah yang menciptakan aku, jadi aku memang ditakdirkan seperti ini”cerita Naurah dengan deraian air mata.
“Astaghfirullah.....benarkah itu Naurah? Mengapa aku melihat kamu seperti manusia sempurna? Kenapa wanita sepertimu diberikan cobaan yang begitu berat dariku? Benar katamu Rah Allah yang menciptakan kita, jadi hidup dan mati memang ada ditangannya. Kadang aku juga hanya bisa pasrah atas hidup dan matiku. Aku pernah di vonis 2bulan lagi umurku habis. Tapi aku percayakan semua pada Allah”kata Amirah mencoba tegar. Naurah memasang wajah sedih, namun Naurah berusaha menutupinya kepada Amirah. “Amirah, jika nanti aku sudah tidak berada di dunia ini lagi, kamu harus terus berjuang untuk penyakitmu. Aku yakin kamu dapat sembuh. Karena takdir Allah siapa yang tahu. Jangan takut kepada siapapun karena Allah selalu menyertaimu. Jangan kau dengarkan perkataan orang-orang yang selalu mengejek atau menjauhimu, karena sesungguhnya mereka hanyalah makhluk yang tidak pernah bersyukur” Kata Naurah memberi semangat.
Tiba-tiba Amirah meneteskan air mata. Amirah tak menyangka bahwa Naurah sangat perhatian padahal baru saja bertemu. Naurah bagai sosok seorang kakak yang selalu memberi semangat sedangkan dia juga sedang rapuh. MasyaAllah.....sudah jarang sekali orang seperti Naurah yang selalu berpasrah hanya kepada Allah. Mungkin Amirah beruntung bertemu dengan orang seperti Naurah. Yang membangkitkan semangat hidup bahkan memberi acuan untuk tetap mengingat bahwa Allah lah yang menakdirkan semua ini.
Hari semakin sore. Matahari pun sudah mulai senja. Lalu Naurah pamit untuk pulang. Amirah berharap esok dapat bertemu bersama lagi. “Aku mengharapkan kamu kembali kesini Naurah....kita bercerita lagi bersama. Apakah kamu mau?”ujar Amirah. Tak tau mengapa Naurah hanya memberikan sebuah senyuman mewakili jawaban dari pertanyaan Amirah. Tentu saja Amirah bingung dan sedikit berfikir. Naurah sudah berjalan agak jauh dari taman. “Apa maksut Naurah dari senyuman tersebut? Apa dia tidak ingin bertemuku lagi?”ucap Amirah dalam hati. Karena waktu semakin sore Amirah pun bergegas untuk pulang juga.
Sesampainya di rumah, Amirah tak ingin banyak berkata. Dia langsung masuk ke kamar. Di kamar, dia menceritakan kejadian di taman pada buku diary nya. Amirah sempat bertanya-tanya mengapa akhir-akhir ini banyak orang yang menyemangatinya. Apakah itu sebuah pertanda? Tapi Amirah langsung mengabaikannya. Amirah yakin bahwa inilah hidup. Amirah juga bingung mengapa dia bisa bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya? Entahlah. Amirah memutuskan untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Amirah kembali ke taman tempat ia bertemu Naurah. Ketika sedang berjalan menuju taman, Amirah melihat sebuah bendera kuning berkibar di sebuah pagar sebrang taman. Memang sengaja Amirah datang ke taman pagi hari karena ingin bercerita banyak lagi dengan Naurah. Amirah penasaran dengan nama yang ada pada bendera kuning tersebut. Sebab, Naurah pernah bilang bahwa rumahnya di sebrang taman. “Apakah itu bendera kuning.....Astaghfirullah mengapa aku bisa berfikir seperti itu”Gumam Amirah dalam hati.
Ketika Amirah sudah berada di depan pagar tersebut, Amirah mencoba untuk membaca siapa orang yang telah meninggal. Karena rumah tersebut dipenuhi orang, jadi Amirah sedikit susah melihatnya. Tiba-tiba diary yang dipegang Amirah langsung terjatuh, terkaget ketika melihat sebuah nama yang tertera pada bendera kuning tersebut. Naurah Bilqis binti Ahmad Dhailani. Terlintas terus nama itu dipikiran Amirah. Matanya tak sanggup menahan air mata yang kini mulai membasahi pipinya. “Innalillahi....tidak mungkin. Aku baru saja bercerita semua tentang penderitaanku. Mengapa Naurah meninggalkanku begitu cepat? Padahal aku merasa nyaman sekali berada di dekatnya. Seakan-akan Naurah malaikat yang terus menyemangatiku untuk hidup. Berarti...kemarin aku berbicara dengan.....”. Langkahnya pun terhenti. Tangis pun menghampiri Amirah. Amirah langsung bergegas pulang untuk berganti pakaian dan setelah itu kembali ke rumah Naurah.
Setelah Amirah tiba dirumah Naurah, Amirah merasa asing. Dia tak tahu harus berbicara pada siapa. Jenazah Naurah pun sedang berada di ruang depan dan salah seorang keluarganya sedang mengajikan beliau. Amirah meneteskan air matanya lagi. Hatinya perih, tubuhnya lemas karena melihat teman barunya itu harus pulang kembali pada Allah. “Maaf dek temennya Naurah?” seorang gadis cantik bertanya pada Amirah. “Ha?Iya ka. Aku baru saja kenal Naurah kemarin di taman”sahut Amirah. “Sebaiknya kita berbicara di luar. Tak baik berbicara pada situasi seperti ini disini”Kata gadis itu lagi. Lalu mereka berdua langsung berjalan ke teras depan.
“Namaku Aqila. Aku kakak Naurah yang paling besar. Namamu Amirah bukan?”tanya gadis itu. “Kakaknya Naurah? Dia tidak bilang mempunyai kakak perempuan. Memang sih perbincangan kita kemarin tak sejauh sampai menceritakan soal keluarganya. Iya namaku Amirah. Mengapa kakak kenal denganku?”jawab Amirah lantang. “Iya Naurah bercerita padaku bahwa dia bertemu gadis cantik di taman sebaik dirimu. Aku penasaran dengan cerita adikku. Dia juga sudah bercerita banyak tentang penyakitmu. Aku tak tau mengapa Naurah meninggalkan kita secepat ini. Kemarin setelah dia pulang dari taman sebelum ia tidur, dia bercerita semua tentang kejadian di taman itu. Tak seperti biasanya Naurah se terbuka ini denganku. Dia sempat menitipkan ini kepadaku semalam” sambil memberikan sepucuk surat pada Amirah.
“Apa ini kak? Sempat-sempatnya Naurah menulis surat untukku? Seperti sudah direncanakan. Padahal aku baru bertemunya kemarin. Semangatku dibangkitkan olehnya. Aku tak merasakan kepedihan ketika di sampingnya”Kata Amirah. “Itu sebuah surat untukmu yang dia tulis setelah aku tertidur. Entahlah. Kamu bisa buka isi surat itu. Siapa tau ada amanat yang tertulis untukmu”jawab Aqila. Lalu Amirah merobek amplop surat, di depan amplop tersebut tertera nama Amirah. Amirah kaget ketika membaca surat tersebut. Tak kuasa menahan air matanya, Amirah langsung dipeluk oleh Aqila kakak dari Naurah.
Yang aku cintai, Nazwatul Amirah.
Mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tenang di alam baruku. Aku tahu kamu pasti tak menyangka. Sepulang dari taman kemarin, penyakitku kambuh seakan-akan aku memang tak bisa hidup lagi. Lalu aku ceritakan semua tentangmu kepada kakakku. Agar dia tahu bahwa kamu teman terbaikku. Walaupun kita baru kenal, tapi aku merasa nyaman denganmu. Kamu wanita baik-baik yang Allah ciptakan dan Dia sedang memberikan cobaan yang amat besar kepadamu. Dengarkanlah Amirah, penyakitmu pasti sembuh. Aku selalu mendoakanmu. Aku tahu kamu sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku juga sudah tidak tahan dan ini memang rencana Allah untukku. Inilah yang terbaik dari hidupku. Yakinlah Amirah bahwa setiap manusia memang tiada yang sempurna. Kamu menyempurnakan dirimu dengan agamamu. Aku ingin kamu tak perlu takut akan sepertiku, karena kamu wanita beruntung yang Allah ciptakan. Jika kamu ingin bercerita tentang apapun, datanglah ke rumahku. Dan ceritakan semuanya pada kakakku. Dia wanita baik-baik. Dia kakak yang paling mengerti tentangku. Seakan-akan sebagian jiwaku ada padanya. Jika kamu tak ingin ke rumahku, ajaklah kakakku ke taman. Aku akan selalu mendengar curahan hatimu dari kejauhan. Kakakku ada di rumah setiap sabtu dan minggu. Karena dia selalu mengajar di salah satu Fakultas Sastra Arab di Jakarta. Tak perlu sungkan Amirah. Tunjukkanlah surat ini pada kakakku. Ku yakin dia paham tentang surat ini. Semangat Amirah.... jangan terus menangisiku, aku sudah bahagia setelah kepedihan selalu ku rasakan di dunia. Kejarlah cita-citamu. Jangan lupa waktu kita pertama kali bertemu. Aku akan selalu merindukanmu.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Naurah Bilqis
Air mata Amirah terus bercucuran, dia langsung memberikan surat itu pada Aqila. Aqila pun ikut menangis. Karena Naura berpesan untuk jangan menangisinya, akhirnya mereka berdua mengusap air matanya itu. Lalu Amirah berkata “Sekarang aku tahu maksut dari senyuman Naurah kemarin”. “Maksutmu?” tanya Aqila. “Iya ketika aku aku mengajak Naurah untuk balik lagi ke taman ini, dia tak menjawab apa-apa. Dia hanya memberikanku sebuah senyuman seakan mewakili jawaban dari pertanyaanku. Aku sempat memikirkan arti senyum tersebut, tapi aku berusaha berprasangka baik” jawab Amirah. “Dia mungkin tak sadar memberikan senyuman itu padamu, dan dia tak janji bisa menemuimu lagi karena sekarang dia sudah tidak berada di dunia ini. Ya sudah jika kamu ingin mencurahkan isi hatimu, curahkanlah padaku. Aku siap mendengarkannya. Aku akan menganggapmu seperti Naurah adikku sendiri. Jangan difikirkan lagi rah, sekarang lebih baik kita masuk ke dalam”Aqila bicara lagi. Mereka pun masuk ke dalam untuk melihat Naurah di mandikan dan di kafani.
Amirah terus bersama Aqila. Amirah juga menemani Aqila sampai jenazah Naurah dikuburkan. Setelah jenazah dikuburkan Amirah pulang ke rumah dan mencoba tersenyum kembali. Dia tak ingin menangisi Naurah karena Naurah tak ingin melihat Amirah menangisinya. Amirah menyelipkan surat Naurah di antara kertas-kertas diary nya. Karena hari ini terlalu lelah, Amirah memutuskan untuk beristirahat. Dia tak ingin penyakitnya tiba-tiba kambuh dan menyusahkan orang lagi.
Empat bulan kemudian
                “Tak terasa terapi sudah aku jalani selama empat bulan. Semoga penyakitku ini semakin membaik. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk diriku sendiri. Jika aku memang tak sanggup untuk bertahan, akan ku serahkan hidup dan matiku hanya padamu yaAllah”Gumam Amirah dalam hati. Amirah ada jadwal terapi hari ini. Ketika sampai di tempat terapi, Amirah terkejut melihat pasien terapi semakin banyak. Dia tak menyangka orang-orang yang seharusnya sedang bersenang-senang di luar sana malah menahan penyakitnya di tempat ini.
                Amirah duduk di sebelah Bude Maisaroh, lalu seorang anak kecil menghampiri Amirah. “Bolehkah aku duduk disini kakak?”tanya seorang gadis kecil yang lucu. “Silahkan duduk sayang. Mengapa kamu sendirian? Dimana orang tuamu?”kata Amirah. Lalu gadis kecil itu bilang “Terima kasih kak. Orang tuaku sudah meninggal. Aku ke sini bersama kakak ku. Sekarang dia sedang mengambil nomor antrian”. “Maaf aku tak bermaksut sayang. Siapa namamu cantik? Mengapa kamu ke tempat ini?” tanya Amirah.
                “Namaku Bahirah kak. Aku mencoba terapi di sini” jawab Bahirah lagi. “Bahirah? Artinya cantik. Arti namamu sama seperti yang punya nama” Amirah berkata sambil tersenyum kepada gadis itu. Lalu gadis itu balik bertanya “Terima kasih kak,kamu juga cantik seperti yang aku lihat dengan mataku. Mengapa kakak berada di tempat ini? Bukankah kakak sehat-sehat saja?”. Amirah meneteskan air mata dan bilang “Aku terserang kanker rahim sayang. Aku sudah melakukan terapi ini empat bulan terakhir. Doakan saja supaya aku cepat sembuh dari penyakitku. Berapa umurmu nak?”. Bahirah menjawab dengan kepolosannya “Umurku 7 tahun kak. Aku juga punya penyakit di tubuhku. Aku mempunyai kelainan hati sejak kecil. Kata dokter aku sulit disembuhkan”. “YaTuhan.......umurmu masih sekecil ini harus merasakan penderitaan yang amat menyedihkan? Percayalah sayang bahwa kamu akan sembuh. Teruslah berdoa, karna Allah tak ingin melihat kamu lemah” Amirah berkata dengan perasaan sedih.
                “Aku selalu berdoa kak. Aku yakin bahwa Allah berlaku adil. Aku tak ingin buat Allah sedih karena aku juga sedih. Aku tidak ingin melihat Allah menangis karena aku menangis. Maaf kak aku tidak bisa menemanimu di sini, karena aku sudah dipanggil kakakku” kata Bahirah sambil bangun dari tempat duduknya. “Kamu benar sayang, tetap semangat dan jangan menyerang. Aku akan selalu mendoakanmu. Ya sudah pergilah sana dek, kakakmu telah menunggumu” jawab Amirah sambil tersenyum dan menoleh ke arah kakak Bahirah. Perawat pun memanggil nama Amirah untuk masuk ke dalam ruangan terapi. Lalu Amirah pun masuk dan ternyata hari ini dia juga giliran kontrol rahimnya.
                Di dalam ruangan, sebelum melakukan terapi Amirah bertanya kepada dokter “Bagaimana perkembanganku dok? Apakah penyakitku sudah mulai membaik?”. Dokter memeriksa rahim Amirah dan bilang “Mengapa kamu kembali ke sini Amirah? Kamu tak pantas berada di sini lagi”. Amirah bingung atas perkataan dokter itu dan bertanya “Maksutmu? Mengapa dokter berkata seperti itu? Apakah aku akan mati besok?”. Lalu dokter tersebut tersenyum dan bilang “Alhamdulillah dan Subhanallah penyakitmu sembuh total Amirah. Aku sudah berulang kali memeriksamu, dan penyakitmu menghilang seakan-akan tak pernah ada. Kamu sekarang sehat Amirah. Ini berkat doa yang selalu kau lanturkan, Allah mendengar semua doamu, Allah masih sayang padamu”.
                Amirah merasa tak percaya dengan perkataan dokter itu. Amirah menangis dan bilang “Kau membohongiku kan? Kau bilang seperti ini supaya aku kuat kan? Supaya aku tak rapuh lagi? Iya kan dokter?” “Tidak Amirah tidak....untuk apa aku berbohong kepadamu. Kalau kamu tak percaya lihat saja hasil labolatorium dan scanning dari rahimmu”jawab Dokter Zain sambil memberikan amplop ukuran besar hasil labolatorium. Amirah membuka amplop itu dan melihat hasilnya. Entah air mata tiba-tiba bercucuran di pipinya “Subhanallah, Maha Suci Allah aku tak percaya Allah menyembuhkan penyakit yang aku derita selama ini. Hampir empat tahun aku merasakan penderitaan ini. Terima kasih ya Allah, atas kehendakmu aku sembuh terima kasih” Amirah kaget dan langsung sujud syukur.
                Dokter berkata “Tapi Amirah....”. Amirah langsung memotong pembicaraan dokter dan bertanya “Tapi apa dokter? Tapi apa?”. Dokter itu menjawab “Penyakitmu memang sudah sembuh total Amirah, tapi nanti jika kamu menikah, kesempatan kamu untuk mendapat keturunan sangat kecil. Hanya Allah lah yang berkehendak semuanya. Teruslah berdoa agar hal itu tidak terjadi”. “Aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untukku dok, aku yakin. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Semoga Allah selalu menyertaiku” Amirah nyeletuk lagi. “Ya sudah pulanglah Amirah, dan beritahu orang tuamu atas karunia ini. Semoga dia bahagia mendengar ini semua” Dokter Zain menyuruh Amirah pulang. Lalu Amirah bersalaman dengan Dokter Zain dan izin untuk pulang. Sebelum Amirah keluar dia berkata ”Terima kasih atas semuanya dok, semua juga berkatmu. Allah menyuruhmu untuk menyembuhkanku. Kau perantara Allah yang diberikan untukku. Sekali lagi terima kasih”. Amirah meninggalkan ruangan dengan wajah yang berseri-seri melebihi biasanya.
                Sesampainya di rumah, Amirah segera menelpon orang tuanya. Dan orang tuanya sangat senang mendengar hal itu. Amirah bersyukur sekali penyakitnya dapat disembuhkan. Padahal kesempatan untuk dia hidup sangat kecil. Tetapi Allah berkehendak lain, Allah mendengar segala doa Amirah. Dan Amirah masuk ke kamar lalu mengambil surat dari Naurah. Sambil melihat-lihat lagi isi surat itu, Amirah berkata “Benar katamu Rah, Allah akan menyembuhkan penyakitku. Sekarang aku sudah sembuh total. Seandainya kamu masih di sini, pasti aku langsung cerita kepadamu tentang hal ini. Oh tidak... Kak Aqila”. Amirah seketika langsung ingat Kak Aqila. Kata Naurah, jika Amirah ingin bercerita, datanglah kepada Aqila. Hari ini menunjukkan hari Minggu, dan Aqila pasti sedang berada di rumah. Lalu Amirah langsung menelpon Aqila untuk bertemu di taman jam 3 sore.
                Jam menunjukkan pukul 3 sore, lalu Amirah bergegas pergi ke taman untuk menemui Aqila. Sesampainya Amirah di taman, Aqila sudah menunggunya di tempat yang sama ketika Amirah bertemu dengan Naurah. Amirah menyapa “Kak Aqila? Sudah lama ya menungguku?”. Lalu Aqila menjawab “Duduk Rah, tidak kok aku baru saja datang 5 menit yang lalu. Mengapa kamu ingin menemuiku? Apa kamu sedang ada masalah? Tapi wajahmu tak menunjukkan kamu punya masalah”. Wajah Amirah berseri-seri, lalu dia menunjukkan amplop hasil labolatoriumnya itu tanpa berkata. “Apa ini Rah? Amplop?”tanya Aqila. “Buka saja kak dan lihat apa isinya”jawab Amirah.
                Aqila membuka amplop itu dan melihat dalamnya. Seketika Aqila terkejut dan bilang “Kamu sembuh total Rah? Benar? Subhanallah. Semua berkat Allah. Doamu selama ini di dengar oleh-Nya”. Lalu Amirah memeluk Aqila dan berkata “Aku sembuh kak, aku sembuh. Entah aku mimpi atau tidak. Aku bersyukur sekali Allah mengizinkan aku hidup sempurna seperti wanita lain. Yang masih mempunyai rahim yang sehat”. “Alhamdulillah Rah, kamu tidak mimpi ini nyata. Allah menyayangimu. Mungkin ini hikmah di balik cobaan yang menimpamu 4 tahun terakhir ini. Karena kesabaranmu, karena perjuanganmu, karena semangatmu. Allah melihat kamu selalu berserah diri, kamu tidak mengeluh atas apa yang dia berikan. Kamu tetap bersyukur walaupun tubuhmu tak sesempurna orang lain. Banyak orang yang tidak mensyukuri apa yang dia punya. Dia tak melihat di luar banyak orang yang jauh lebih buruk dari padanya. Kamu termasuk wanita beruntung Rah” kata Aqila terharu.
                “Naurah benar kak, Allah memang akan menyembuhkanku. Dia mungkin mendoakanku di sana. Seandainya Naurah masih berada di dunia ini...” Amirah makin sedih. “Sudahlah Amirah yang penting Alah telah menyembuhkanmu. Jangan kamu tangisi Naurah lagi, dia sudah bahagia di surga” kata Aqila menegarkan Amirah. “Terima kasih kak....kamu juga sangat perhatian kepadaku. Padahal aku baru saja mengenalmu. Tapi kamu sudah berbuat baik padaku. Aku beruntung bertemu denganmu”Amirah memeluk Aqila lagi. “Sama-sama Rah, Naurah lah yang mempertemukan kita. Sudah sekarang jangan sedih kamu harus memulai dan menata hidup yang baru sekarang. Kamu juga bisa sekolah lagi sekarang”jawab Aqila.
                Setelah mereka berdua berbincang-bincang di taman, tak terasa waktu semakin sore. Sedikit lagi magrib datang. Dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya Amirah di rumah, rumahnya ramai dipenuhi orang. Amirah kaget dan langsung bertanya-tanya pada Bude Maisaroh. “Ada apa ramai-ramai begini Bude?”tanya Amirah. Bude pun langsung menjawab “Papa dan mamamu sengaja mengundang para tetangga untuk syukuran karena penyakitmu sembuh nak”. “Tapi tak perlu sampai seperti ini Bude. Aku sembuh saja sudah bersyukur sekali. Apalagi di datangi tetangga untuk kesembuhanku. Ternyata papa dan mama masih memperhatikanku”Amirah bicara lagi. “Lah iya...toh mereka adalah orang tuamu nak. Ya sudah sekarang kamu ganti baju yang rapi, terus ke sini lagi untuk menemui tamu-tamunya”kata Bude Maisaroh. “Oke siap bossss” jawab Amirah semangat sambil mencium pipi Budenya itu.
                Amirah sudah rapi dan cantik. Gamis warna peach dan kerudung broken white membuat Amirah semakin terlihat cantik. Dia langsung turun ke bawah menemui tamu-tamu nya. Banyak orang yang mengucapkan selamat seperti orang yang sedang berulang tahun. Amirah bersyukur sekali sembuh dari penyakit yang telah lama dideritanya. Orang tuanya pun masih perhatian dan punya pikiran seperti ini. Setelah tamu-tamunya pulang, Amirah memeluk orang tuanya sebagai tanda terima kasih. Lalu orang tuanya pun memutuskan untuk menyekolahkan Amirah kembali di tempat sekolahnya dulu. Tentu saja Amirah senang dan tidak ingin menyia-nyiakannya. Dia ingin mengerjar cita-citanya yang dulu sempat dia idam-idamkan. Sekarang Amirah hidup dengan bahagia tanpa beban yang selalu dia derita. Senyumnya terlihat lepas seperti tak pernah merasakan kepedihan apa-apa. Akhirnya penyakitnya dia lawan dengan kesabaran dan ketaqwaannya kepada Allah.

Kamis, 31 Juli 2014

Memendam Perasaan dengan Kesabaran





Hati adalah anugerah terindah yang Allah ciptakan sehingga kita dapat mengerti tentang perasaan. Hati adalah salah satu media percakapan ketika raga tak sanggup untuk mengeluarkan permasalahan pikiran. Dan hati merupakan alat untuk mencintai seseorang dalam setiap keadaan. Banyak orang yang tidak tahu bagaimana rasanya berjalan di atas awan, mendaki di dalam pikiran dan terjatuh di bawah dahan.

            Sebagian orang banyak yang tidak merasakan rasanya jatuh cinta dalam keadaan bisu, tidak bisa berkata atas apa yang telah dia rasakan. Karena takut orang yang dia cintai itu tuli, tidak bisa mendengar jeritan hati yang dirasakannya selama ini. Ketika seseorang hanya memendam perasaan dan tak pernah berani untuk memulai, hati tak pernah bisa merasakan rasanya dibahagiakan dan terus bertahan tanpa kepastian.

            Ketika seseorang jatuh cinta dengan memendam, dia tak akan pernah tahu apapun meski hatinya berlaju semakin dalam. Dan jika cinta yang tumbuh setiap hari tak pernah digapai, dia hanya bisa menunggu dan merasakan sakitnya merindu dikurung waktu. Sebab, jika kita mencintai seseorang tanpa berperang, bagaikan hidup dalam kegagalan dan tak pernah bangkit untuk kembali berjuang.

            Sebut saja Tya, dia perempuan sabar, tegar dan sedang merasakan rasanya jatuh cinta dalam kegelapan. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan agar orang yang dicintainya itu sadar. Dia tak mengerti bagaimana harus berjuang sendirian. Tya mengagumi Tio sejak 1 tahun yang lalu. Entah perasaan itu muncul secara perlahan dan tiba-tiba. Tio teman seperjuangannya ketika SMA dulu. Ketika mereka mulai memasuki detik-detik perpisahan, perasaan itu muncul tanpa alasan.

            Tio memang murid pandai. Bisa menguasai beberapa bahasa, unggul dalam bidang olahraga, cemerlang dalam bidang kesenian dan selalu menjadi juara kelas. IQnya saja sangat supperior. Tya memang tak kalah pintar, hanya saja dia siswi pendiam. Tak pernah bergaul dengan siapa pun. Tak pernah bercerita sesuatu kepada orang sekalipun. Tya selalu dan selalu memendam apa yang dia rasakan sampai sekarang.

            Banyak informasi yang sudah didapatkan Tya tentang Tio sang pangeran hatinya itu. Dari mulai kuliah di Universitas terbaik di Jakarta jurusan Teknik, keberadaan kostannya sekarang, bahkan perempuan yang sedang dekat dengan Tio. Setahu Tya, Tio mempunyai satu orang sahabat perempuan yang bernama Nindy. Nindy satu-satunya perempuan yang berhasil menjadi sahabat Tio setelah sekian lama dia tak pernah mempunyai sahabat perempuan. Tio terkenal cuek dan tidak pernah memperdulikan perempuan.

            Tya terus memantau Tio dari kejauhan. Takut jika Nindy semakin dekat dan mulai mempunyai perasaan dengan Tio dan sebaliknya. Waktu demi waktu terus berlalu, dan ternyata memang status mereka hanya seorang sahabat. Tya selalu berdoa dan berdoa semoga Tuhan mengizinkan dia bertemu dengan orang yang dicintainya, dan berharap jika Tio memang jodohnya. Doa itu terus dan terus Tya ucapkan. Dia tak pernah berhenti menyebut nama Tio sampai detik ini pun. Karena Tya yakin doanya itu didengar dan mungkin Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang Tya tak pernah fikirkan.

            Mencintai seseorang dari kejauhan memang sulit untuk dipertahankan. Karena raga tak selalu melihatnya dari sudut kejelasan. Bayangannya pun datang kadang tak seimbang. Bayangannya datang ketika otak sudah penuh dengan kerjaan. Wajahnya muncul ketika fikiran sedang dibuntukan. Mencintai sesorang dalam keadaan diam merupakan tantangan tersendiri bagi mereka yang masih mau untuk berjuang. Karena keyakinan selalu ada dan tak akan pernah pudar. Selalu setia menunggu meskipun hati selalu dibuat pilu.

            Tya terus berdiam dan memendam. Dia hanya bisa curhat kepada 2 media. Pertama Allah dengan lisan, yang kedua buku diary dengan tulisan. Sudah full diary nya selalu dia curhati. Ada kata-kata yang selalu menjadi motivasinya sehingga dia masih berjuang.

Jika Allah tidak mempersatukan aku dengan dia, itu artinya aku bukan orang terbaik untuk masuk dalam kehidupannya. Namun aku yakin bahwa seseorang selalu berusaha menjadi yang terbaik. Mungkin sekarang aku belum menjadi yang terbaik sehingga Allah masih mengukur kadar usahaku. Tapi nanti, jika aku terus berjuang sampai menjadi yang terbaik, dia pasti akan dikirimkan Allah untuk masuk sendiri di kehidupanku tanpa aku harus memulai masuk di kehidupannya. Semoga dan Semoga.......Aamiin
                                                                                                                                    Tya-Tio

            Kata-kata motivasi untuk dirinya sendiri selalu dia buat untuk menjadi acuan bertahan. Ada keinginan untuk memulai semuanya duluan, tapi hati masih saja menahan. Dia tak mau jika hatinya makin tergores pilu akibat Tio yang tak memperdulikannya jikalau bertemu.  Selalu dan selalu keinginan itu terlintas, namun fikiran dan perasaannya seketika berantakan tak karuan. Tya semakin dalam mencintai Tio. Tapi apalah daya, Tya tak mau berkata apapun juga.

            Suatu ketika, Tya bertemu dengan teman lamanya. Teman seperjuangannya sewaktu SMA, namun bukan Tio. Namanya Gandi. Boleh dibilang Gandi juga tahu tentang Tio sekarang. Tak sengaja pertanyaan mendalam dikemukakan Tya begitu saja. “Eh Tya kan? Masih inget kan sama gue?”tanya Gandi. Tya pun menjawab “Ha? Gandi? Oh iya gue inget anak IPS yang basket dulu ya?”. “Hehe iya Ya, masih inget ternyata. Gimana kabarnya? Sekarang kuliah atau kerja?”tanya Gandi lagi. “Kuliah Gan. Lo?”Tya balik tanya. “Gue juga kuliah jurusan Teknik Ya sama Tio. Masih kenal Tio kan? Yang pinter kebangetan?”kata Gandi lagi.

            Seketika suasana jadi sunyi. Tya tak sangka nama Tio disebut sebut oleh Gandi. Ternyata Gandi salah satu orang yang mungkin bisa membantu Tya. Tapi bagaimana caranya? Tya tak pengin Gandi tahu apa yang Tya rasakan saat ini. Tya tak berani bilang pada siapapun. Kemudian Gandi kebingungan dan menyolek pundak Tya “Heh kok malah bengong? Mikirin apa nih? Kok gue sebut nama Tio mukanya berubah gitu? Wah....”. Lalu Tya langsung menjawab “Apa sih Gan.... Enggak kok. Gue cuma lagi mikir orangnya yang mana. Gue sedikit lupa. Memangnya dia di Teknik sekarang?”. “Iya Ya. Dia juga makin pinter sekarang. Setiap hari, setiap kali datang  dia selalu disambut perempuan. Tapi ya sikapnya masih kayak dulu, masih cuek sama perempuan. Tapi sekarang Tio punya sahabat perempuan, namanya Nindy. Kalau gue lihat dia tuh dekat banget, entah ada hubungan apa. Tapi setiap kali gue tanya, jawabannya selalu sama. Cuma sahabat”cerita Gandi panajang.

            Dan hati Tya makin enggak karuan. Pengin banget curhat sama Gandi, tapi Tya masih menahan dan terus menahan. Hingga pada akhirnya Tya enggak sengaja bilang “Tio punya line enggak Gan? Eh “. Gandi malah nyengir-nyengir sambil bilang “Hahaha yaampun Ya lo masih nahan banget yaaa. Gue memang dulu sama sekali enggak dekat sama lo, lo kan juga jarang bergaul. Tapi daritadi udah kebaca kalo lo naksir dia. Jangan-jangan lo naksir dia dari SMA yah Ya? Santai aja sama gue mah”. Masalah makin rumit, Tya jadi salah tingkah enggak jelas. Dia makin bingung harus jawab apa. Kemudian Tya jawab “Hmm... entah darimana mulainya Gan. Entah gue enggak ngerti sama perasaan gue sekarang. Tapi gue cuma penasaran aja kok sama dia, enggak lebih. Eh Gan gue ada kelas 25 menit lagi, gue duluan ya”. Tya langsung berjalan meninggalkan Gandi seakan-akan mebuat Gandi bertanya-tanya apa yang sebenarnya Tya sembunyikan.

            Tya sengaja menyembunyikan semuanya karena dia tak pengin menjadi tambah rumit. Dia tak pengin Tio jadi benci dengan Tya jika dia mengetahui semuanya. Semuanya hanya butuh proses. Hanya waktu yang dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan hati selama ini. Namun, apa kita hanya akan menunggu waktu? Apa kita harus mengandalkan jawaban waktu yang belum tepat kedatangannya? Akankah nanti jika waktu sudah menjawab dan nyatanya memang menyakitkan, cinta akan terus berjuang?

            Memendam memang memperburuk keadaan. Tya hanya mengandalkan sebuah doa dan keyakinan tanpa berusaha karena dia tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana dia bisa dekat dengan Tio kalau semakin hari semakin jauh rasanya? Meskipun bisa saja Tya meminta bantuan dengan Gandi. Tapi Tya tak pengin menyusahkan orang lain. Dia tak pengin menyangkut pautkan seseorang untuk perasaannya. Walaupun berat rasanya menjalankan hidup yang seperti ini.
********************

Hari ini Tya libur, dia memutuskan jalan kemana pun untuk menenangkan hati dan fikirannya. Entah hatinya semakin tenang atau malah menjadi semakin bimbang. Akhirnya Tya memutuskan untuk pergi ke toko buku. Sekalian ada beberapa buku yang harus dibeli. Sesampainya ditoko buku, Tya memang sengaja berlama-lama di sana karena malas untuk beranjak ke tempat lain. Tya lebih memilih membaca buku di sana, daripada harus berpanas-panasan di luar.

            Ketika Tya sedang mencari buku, ada sosok laki-laki yang tidak asing baginya. Seperti sosok yang dia kenal tapi tak bisa dipastikan karena hanya terlihat dari belakang. Sosok laki-laki tegap yang ada di hatinya sekarang, ya itu Tio. Tak sengaja beberapa buku tiba-tiba terjatuh dan membuat sosok laki-laki itu menoleh ke belakang. Wajah Tya langsung memerah dan tak tahu harus berbuat apa. Tingkahnya seketika menjadi tidak terarah.

            Lalu laki-laki itu menegur Tya dengan wajah ceria “Eh lo Tya kan? Dulu anak IPA yang hobinya nongkrong di toko buku? hehe”. Wajah Tya langsung berubah. Hal yang selama ini dia nantikan akhirnya terjadi juga. Tya bengong melihat sosok Tio itu. Tio pun merasa aneh dan bertanya lagi “Gue salah orang enggak sih?” dan Tya pun langsung menjawab “Ha? Tadi lo nanya apa deh? Gue anak IPA? Iya gue Tya. Lo Tio bukan? Kok kenal gue?”Tya balik tanya.

            Memang Tya jadi terkesan aneh. Dia memang tak menyangka akan bertemu Tio di sini. Dan Tio pun menjawab “Hehe iya gue Tio. Gue memang kenal lo dari dulu. Gue sering ngeliatin lo di perpustakan lagi baca buku. Mungkin lo enggak ngeliat gue”. “Hmmm... mungkin kali ya. Sekarang kuliah dimana?”tanya Tya lagi. Pertanyaan itu terlontar agar menghidupkan keadaan. Walaupun Tya sudah lebih tahu sebelumnya. “Bukannya lo udah tahu? Kemarin lo ketemu Gandi kan? Dia cerita kalau dia ketemu lo kemarin”ujar Tio. “Ha? Gandi? Dia ngomong apa aja sama lo?”tanya Tya penasaran. Tiba-tiba Tio ketawa pelan “Hahaha kok kayaknya lo ketakutan gitu? Dia cuma bilang ketemu sama Tya temen SMA dulu. Gue langsung mengira elo karena enggak ada lagi yang namanya Tya”.

            Suasana berubah jadi krik banget. Entah apa yang harus dibicarakan lagi. Masa iya harus bicara tentang hati? Mustahil banget. Tio juga belum tentu mengarah ke situ. Lalu Tio pamit pulang duluan. Katanya sih masih harus ngerjain tugas. “Ya, gue balik duluan ya..... Lo masih lama? Apa mau pulang bareng?”ajak Tio. Tya tentu sangat terkejut mendengar ajakan Tio. “Demi apa nih Tio ngajak pulang bareng? Ah ini mimpi kan? Ini mimpi kan?”ucap Tya dalam hati. Tya langsung menatap kebingungan sambil ngomong gugup “Ha? Pulang bareng? Eh maksutnya? Eh gue enggak paham”. Tio semakin bingung Tya kenapa dan menjawab “Iya kalo lo mau bareng, sekalian aja gue antar pulang”. Dan Tya langsung celetuk bilang “Duluan aja, gue masih mau baca”. “Oke....see you ya”pamit Tio sambil berjalan meninggalkan toko buku.

            Kenapa Tya bodoh banget? Udah dikasih kesempatan di depan mata kenapa ditolak gitu aja? Kan kebeneran lagi ketemu. Besok? Lusa? Dan seterusnya belum tentu  ketemu lagi. Sumpah Tya bodoh banget udah menyia-nyiakan kesempatan. Mana mungkin sih ada kesempatan kayak gini lagi? Ini aja ketemu udah kayak mimpi, eh diajak pulang bareng malah nolak mentah-mentah. “Ih kok gue bisa ngomong kayak gini? Kok gue enggak terima tawaran dia buat pulang bareng? Ih ini gue kenapa sih?”kata Tya dalam hati sambil memukul mulutnya pelan. Tya sangat menyesal sekali menolak tawaran emas itu. Kadang yang tak disangka-sangka pasti akan terjadi. Buktinya, Tya belum sempat terfikir untuk ketemu Tio di toko buku ini. Daripada terus menyesalkan tolakannya itu, Tya memutuskan untuk pulang.

            Sesampainya di rumah, wajah Tya sangat ceria. Tidak seperti biasanya begitu. Ibunya terheran-heran melihat sikap Tya hari ini. Lalu ibunya menghampiri Tya dan bertanya “Anak ibu kenapa sih? Daritadi senyam-senyum nyengar-nyengir, kayaknya senang banget”. “Ah apa sih ibu biasa aja. Aku mau ceria hari ini. Enggak mau cemberut terus. Nanti kalo anak ibu cemberut terus ibu pasti bilang ‘kok anak ibu cemberut terus?’ iya kan?”jawab Tya cengengesan. “Cieee kayaknya udah paham banget sama ibu. Ibu tahu nih kalo anak ibu lagi kasmaran. Lagi jatuh cinta, iya kan?”ucap ibu dengan wajah ngeledek. “Ah ibu mah salah terus anaknya. Enggak kok siapa yang jatuh cinta. Ibu sok tahu”celetuk Tya lagi. “Iyadeh iya ibu enggak ganggu orang yang lagi kasmaran. Udah ah ibu mau masak dulu”kata ibu sambil meninggalkan Tya.

            Setelah ibu Tya pergi, Tya bergegas mandi dan bersih-bersih. Setelah dia sudah rapi, seperti biasa Tya selalu mencurahkan isi hatinya di buku diary nya itu. Dia bercerita tentang pertemuan singkat tadi siang di toko buku dengan Tio. Mengingat dan terus mengingat kejadian tadi siang. Rasanya tak pengin mengakhiri siang yang indah menjadi malam.

Dear Diary...................
Jika hari ini dapat ku ulang kembali, rasanya pengin mengulang kejadian siang yang indah saat bertemu Tio. Engkau memang adil yaAllah... Engkau selalu menjawab isi doaku walaupun banyak yang belum Kau jawab termasuk perasaannya terhadapku. Namun aku yakin, bahwa ini adalah awal yang menjadi acuan untukku agar selalu bertahan dengan senyuman. Aku tak tahu harus seperti apa berterima kasih padaMu. Yang terpenting, Kau sudah menghidupkan hariku ini dengan sebuah senyum tulus bibirku. Aku tidak mau Kau merasa bosan karena selalu saja ku menyebut namanya dalam setiap doaku. Aku tidak mau kau menjenuhkan aku karena aku selalu saja memikirkan dia sepanjang waktu. Karena kepada siapa lagi selain denganMu dan diary ini... aku yakin keadilanMu akan datang bagi siapapun yang mau bersabar. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, aku tak mungkin berjuang untuk laki-laki. Aku tak mungkin terus bertahan demi orang yang tak pernah menyadar bahwa dia tlah aku perdulikan. Aku tak tahu harus bertahan atau malah melupakan.... sudah bertahun-tahun aku hanya memendam perasaan ini dalam-dalam. Aku tak berani mengungkapkan karena aku adalah seorang perempuan. Kabulkan permintaanku Tuhan.... aku yakin Kau selalu setia mendengarkan. Aamiin.

********************



            Beberapa minggu kemudian, Tya tak sengaja bertemu Gandi lagi di sebuah restoran kecil tempat Tya makan siang. Lalu Gandi menyapa Tya dengan wajah aneh “Eh Tya lagi..... sendiri aja?”. Tya pun menyapa balik “Eh Gandi. Iya sendirian nih. Gabung aja di sini”. Dan tiba-tiba wajah Gandi memucat seperti ada hal yang pengin disampaikan. Kemudian Tya penasaran dan berkata “Gan....Gan.... lo enggak kenapa kenapa kan? Sepertinya ada yang pengin lo bicarakan sama gue. Tuh udah kelihatan banget”. “Hmmm....eng...enggak ada apa-apa kok. Gue cuma mau ke toilet bentar. Bentar ya....”ucap Gandi gugup. Setelah itu Gandi langsung meninggalkan Tya untuk ke toilet. Tentu saja Tya merasa curiga atas sikap Gandi yang aneh itu. Seperti orang ketakutan tapi entah apa yang dia takutkan.

            Setelah beberapa menit kemudian, Gandi balik menghampiri Tya dengan wajah yang sama. Karena sudah terlanjur penasaran, Tya memaksa Gandi untuk berkata jujur kepadanya “Gan....sebenarnya lo kenapa sih? Gue memang baru ketemu lo 2 kali. Sebelumnya, kita juga belum pernah kenal dekat. Tapi gue tahu kalau lo itu baik hati, lo bisa jadi teman yang baik untuk gue. Ada yang mau lo curhatin? Silahkan. Gue bisa kok jadi pendengar yang baik”ucap Tya panjang. Wajah Gandi masih sama. Akhirnya Gandi mulai bicara dan berkata “Bukan gitu Ya. Ada hal besar yang tadinya mau gue bicarakan sama lo. Tapi gue juga mikir kalau seandainya gue bicarakan itu sekarang di hadapan lo, entah lo akan berbuat apa setelah gue ceritakan”.

            Tya semakin bingung. Tya memang tidak mengerti maksud Gandi tadi. Lalu Tya bertanya “Maksudnya? Gue enggak ngerti Gan. Sebenarnya lo mau cerita apa sih? Kok takut gue berbuat sesuatu?”. Gandi pun menjawab dengan wajah takut “Ini tentang Tio Ya”. Hati Tya langsung gelisah. Entah apa yang akan diceritakan Gandi. Perasaan Tya seketika tak karuan dan bimbang. “Loh tentang Tio? Memangnya ada apa sama dia? Dan apa urusannya sama gue?”kata Tya mencoba tak perdulikan Tio. “Gue tahu Ya kalau lo suka sama Tio. Udah terlihat banget dari mata lo kalau lo sayang sama dia. Mungkin lo bisa nutupin perasaan sama banyak orang, tapi gue ngerti perasaan lo walaupun gue cowok”ujar Gandi meyakinkan. Tya pun akhirnya tidak kuat menyembunyikan perasaannya lagi dan menceritakan semuanya kepada Gandi. “Iya gue memang udah lama sayang sama dia. Gue sengaja memendam karena gue engga tahu kepada siapa gue harus bercerita. Dan gue enggak menyangka kalau lo bisa baca isi hati gue. Apa yang mau lo ceritain? Apa?”tanya Tya makin penasaran.

            Entah Gandi harus menceritakan semuanya atau tidak. Karena Gandi akan tahu resiko apa yang akan terjadi jika Gandi menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Tya. Tapi disisi lain, Gandi tidak mau membuat hatinya Tya semakin teriris. Sebaiknya memang Gandi harus bercerita. “Lo harus janji, apa pun yang akan gue ceritakan sama lo, lo harus tetap senyum dan sabar”ucap Gandi. Sepertinya Tya sudah berfirasat bahwa Gandi akan menceritakan kedekatan Tio dengan Nindy. “Oke gue akan bersikap tenang setelah lo menceritakan semuanya”ungkap Tya penasaran. Dan Gandi mulai bercerita “Setelah gue ketemu lo waktu itu, gue sengaja bilang ke Tio. Gue pengin lihat reaksi dia kayak gimana. Dan gue yakin dari cara dia bengong ingetin wajah lo, dia nyimpan perasaan untuk lo. Terus saat lo ketemu dia di toko buku, dia juga cerita sama gue. Ceritainnya itu semangat kayak habis ketemu bidadari. Gue semakin semangat untuk bantu lo. Tapi setelah beberapa hari gue enggak ketemu dia, ternyata sekarang dia sudah resmi jadi pacar Nindy. Gue juga enggak ngerti sama sekali maksudnya dia apa pacarin Nindy. Setahu gue dia itu enggak ada perasaan apa-apa”cerita Gandi panjang lebar.

            Air mata Tya sudah banyak bercucuran. Namun dia berusaha tegar menghadapi semuanya. Toh, tadi Tya sudah berjanji dengan Gandi. Gandi tak tega melihat Tya sedih seperti itu. Tapi jika terus disembunyikan itu malah semakin berantakan. “Udah Ya jangan lo tangisin Tio, kalau memang dia juga menyimpan perasaan sama lo, dia juga akan dipersatukan sama lo nanti tapi bukan sekarang. Percaya sama gue. Enggak ada yang enggak mungkin. Semuanya bisa terjadi kalau lo terus berusaha dan berdoa”bicara Gandi sambil menenangkan. Kemudian Tya kembali tenang dan bilang “Makasih Gan lo udah mau bantu gue. Makasih banget. Tapi gue juga enggak bisa melarang dia untuk dekat sama siapa pun apalagi melarang pacaran. Itu hak dia. Gue bahagia kalau dia bahagia. Gue enggak kenapa-kenapa Gan”. Gandi tahu bahwa Tya berbicara seperti itu untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Gandi tahu bahwa Tya tak pengin Tio mengetahui perasaan yang dirasakan Tya selama ini.

            Air mata Tya dihapus, hatinya kembali tegar. Dia tak mau terlalu memikirkan Tio saat ini. Walaupun hatinya tambah hancur ketika Gandi menceritakan tentang hubungan Tio dengan Nindy, namun Tya berusaha tetap tersenyum. Ketika seseorang yang kita cintai lebih memilih orang lain, ibarat hati tergores pisau yang sangat tajam.  Tak tahu harus berbuat apa lagi, tak mengerti harus bagaimana lagi dan bimbang harus terus bertahan atau tetap memendam tanpa berjuang. Cinta memang tak selalu indah. Mencintai seseorang dan berharap bahwa cintanya akan terbalaskan, ibarat sebuah surat yang ditulis di bawah rintikkan hujan, yang disetiap tulisan akan terhapus kembali karena air yang jatuh akan mengenai tinta dan kertas yang kita sudah tuliskan. Begitu banyak kata-kata yang sudah ditulis dari dalam hati, tapi malah terhapus air begitu saja.

            Hari demi hari dilewati Tya dengan penuh kehancuran. Harapan dan perjuangannya saat ini seakan kandas di tengah jalan. Tya tak tahu harus menjalani kehidupannya dengan keceriaan atau malah kesedihan. Tio pangeran hatinya telah menggoreskan luka yang sangat dalam. Tya tak menyangka bahwa Tio telah berbuat sesuatu yang membuatnya semakin terjatuh dalam keterpurukan. Tya pengin sekali melupakan dan mencari cinta yang tumbuh dengan kepastian. Tapi setelah Tya berusaha mati-matian, dia tak bisa dan terus bertekad untuk selalu bertahan.
********************

            Setelah 5 bulan lamanya Tio berpacaran dengan Nindy, tak sengaja Tya bertemu mereka dalam sebuah taman yang tak jauh dari toko buku tempat Tya dan Tio bertemu dulu. Tya melihat dengan mata kepalanya dengan jelas bahwa Tio sedang duduk berdua Nindy dengan penuh kebahagiaan. Sedangkan Tya yang melihat semuanya, cukup tersenyum dan merasakan sakitnya hanya dengan memendam. Air matanya sedikit demi sedikit membasahi pipinya seakan-akan mewakili kekecewaannya atas perasaannya saat ini. Sebelum akhirnya Tio dan Nindy melihat Tya di taman ini, Tya cepat-cepat pergi meninggalkan taman dengan menyisakan sebuah kekacauan hati yang sangat tak bisa dipungkiri.

            Sesampainya Tya di rumah, air matanya tak berhenti membahasahi pipi di sore hari. Seperti biasa, dia hanya pengin sendiri dan mencurhkan isi hati pada satu-satunya teman sejati yaitu diary. Tangannya lemas tak kuat untuk menulis. Matanya lembab seakan tak melihat jelas dan mulutnya terkunci tak mau mengeluarkan sedikitpun kata karena pedih untuk berkata.

Dear Diary......
Hari ini adalah hari terburuk yang pernah aku alami. Dimana aku harus mengeluarkan banyak air mata untuk orang yang jelas-jelas tak pernah memperdulikanku. Aku tahu semua yang aku alami adalah murni kesalahanku, namun aku yakin bahwa Allah akan menegarkan hatiku dan terus berjuang untuk Tio. Walaupun aku terlihat bodoh, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku tak bisa menghapus semua rasa sayang yang sudah membaluti hatiku dari dulu sampai saat ini. Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Aku tak mau merusak kebahagiaan mereka demi keegoisanku. Tapi aku juga tak bisa melupakan semuanya seakan tak pernah ada apa-apa. Aku tak bisa walaupun berulang kali sudah ku coba..... YaTuhan...mengapa cobaan begitu berat menghampiriku. Aku tak mungkin mengorbankan hati orang yang aku cintai selama ini. Ini semua memang kesalahanku. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu ku akui saja perasaanku kepadanya. Aku menyesal kenapa aku tak selalu memperhatikannya lewat sms atau sosial media. Aku menyesal aku menutupi semuanya dan hanya berpasrah dengan doa. Aku menyesal... Aku menyesal....

            Mulai saat itu Tya mencoba untuk menjalani hidupnya dengan keceriaan. Entah nanti Tio akan sadar atau malah tetap bertahan dengan Nindy. Dari pembicaraan Gandi waktu itu, Tya masih berfikir bahwa ada kemungkinan cintanya tak berhenti sampai di sini. Masih ada banyak kesempatan dan selalu percaya bahwa mereka akan dipersatukan. Walaupun kadang Tya terus menyalahkan dirinya dengan penyesalan. Tya tak mungkin terus menerus memendam tanpa kepastian. Toh Tio sudah dengan Nindy sekarang. Jika Tya terus mengharapkan Tio yang sudah mengecewakannya sekarang, akan membekas perasaan yang tak menghilang ketika nantinya keadaan akan lebih menyakitkan.


Namun yang menjadi pertanyaan adalah ‘Apakah Tya akan tetap memperjuangkan cintanya dan terus bertahan?’ dan ‘Apakah Tio kemudian akan sadar bahwa selama ini ada sosok yang memperdulikan dia dari kejauhan? Apakah Tio akan meninggalkan Nindy dan memilih menjalin hubungan dengan Tya/perempuan yang mencintainya dalam diam?’. Hanya takdir Tuhan yang akan menjawab. Yakin jika semuanya akan berakhir indah tanpa tangisan. Karena Tya sudah menjadi sosok perempuan yang menjalani hidup dengan penuh kesabaran.

Senin, 21 Juli 2014

Menjadi Wanita Indah Bukan?

                Wanita adalah satu-satunya makhluk Allah yang sangat indah. Wanita diciptakan sebagai pribadi yang lembut dan tak pernah menuntut. Wanita begitu sempurna, sehingga Allah tanamkan dalam dirinya sebuah cinta. Tak ada wanita yang tidak sempurna. Karena Allah telah memberikan sifat sabar, kuat, tabah sehingga tak ada alasan untuk menyakiti seorang wanita.

            Wanita diciptakan memang untuk menjadi pasangan seorang pria. Namun, tak semua wanita menjaga kodratnya sebagai wanita. Banyak wanita yang tidak bersyukur atas kodratnya. Padahal, menjadi seorang wanita adalah anugerah terindah yang Allah berikan untuk kita. Katanya, nanti ketika hari kiamat datang, neraka dipenuhi oleh para wanita? Mengapa? Bukankah neraka terbuka bagi siapa saja?

            Memang benar, jelas tertera di hadits, bahwa neraka akan dipenuhi oleh para wanita di akhirat nanti. Namun, syurga teratas atau syurga tertinggi juga akan dipenuhi banyak wanita. Mengapa? Karena menjadi seorang wanita tidak semudah membuat kue. Wanita tinggal memilih, mau masuk syurga atau neraka? Jelas jawabannya syurga. Toh, ibaratnya masuk ke istana megah yang tak ditemukan di dunia.

            Tapi mengapa nanti penghuni neraka kebanyakan dari kaum wanita? Kalau mikir secara logis, ternyata wanita sangat sensitif dengan syurga atau neraka. Apakah menjadi seorang wanita yang baik sudah bisa masuk syurga? Apakah seorang wanita yang tidak pernah sholat bisa langsung masuk neraka? Belum tentu.

            Menurut buku-buku yang saya baca, bahwa Allah akan membuka pintu syurga seluas-luasnya kepada wanita yang menjaga kehormatannya dari para pria. Ketika sudah menikah, Allah akan membukakan pintu syurga kepada wanita yang selalu taat kepada suaminya. Ketika sepasang suami&istri itu belum dikaruniai anak, lalu wanita mengizinkan suaminya untuk menikah lagi agar sang suami memperoleh keturunan, maka syurga lah untuknya. Dan ketika wanita melahirkan seorang bayi, lalu ia meninggal karena telah memperjuangkan anaknya, maka syurga lah baginya. Subhanallah...........

            Seharusnya tidak ada alasan menyakiti seorang wanita. Hatinya begitu lembut, itulah sebabnya mengapa wanita sering menangis. Akui saja bila menjadi seorang wanita memang lelah. Harus berpura-pura tegar di depan banyak orang. Menutupi masalah dari hadapan orang. Dan selalu berikhtiar ketika cobaan terus datang. Wanita memang nomor 1 dari segi hatinya. Wanita tidak seharusnya dikasari, disakiti dan tidak dihargai.  Wanita hanya butuh kasih sayang, sanjungan dan perhatian yang seharusnya dia dapatkan.

            Saya belum menikah, belum tau persis bagaimana kehidupan ketika kita serumah dengan orang yang kita cinta. Belum tau bagaimana tak lagi hidup manja dengan orangtua. Tak tau rasanya bertanggung jawab atas kehidupan berumah tangga. Tapi, pengetahuan adalah sumber kehidupan. Kalau saya mencari informasi tentang kehidupan saya ke depan, tidak jadi masalah kan?hehe. Selama saya tidak merugikan orang lain ya saya rasa tidak bermasalah. Intinya, bangga menjadi seorang wanita. Yang diciptakan Allah begitu spesialnya. Yang seharusnya diperlakukan oleh seorang pria sangat istimewa.

Anggaplah wanita seperti mutiara, yang kalau dijual sangatlah mahal. Mencarinya saja susah, mana mungkin terbuang begitu saja. Maksudnya, mencari wanita yang benar-benar baik sangatlah susah. Ketika seorang pria mendapatkan wanita baik, maka jagalah ia seperti mutiara. Jangan sampai pecah ataupun terbuang. Karena mencarinya saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika sudah mendapatkan wanita yang sangat diidam-idamkan, jangan sampai wanita tersebut diambil orang. Ibaratnya, sudah susah payah mencari mutiara di tengah laut, lalu langsung dicuri orang. Begitulah rasanya......


Sekian dan terimakasih

Harapan Kedua Orangtua

Sebenarnya yang dibutuhkan para orangtua adalah anak-anak yang sholeh dan sholehah. Yang senantiasa selalu mengingatnya dalam setiap doa dan menghindari hal yang bisa membuatnya kecewa. Yang dibutuhkan para orangtua atas anaknya adalah tutur kata yang selalu baik, yang mencerminkan jiwa yang sabar, tegar bahkan ikhlas menjalani hidup bersama mereka. Yang terpenting selalu membawa mereka dalam kebahagiaan bukan malah sebaliknya.

Yang orangtua inginkan adalah jannah dari seorang anaknya. Bacaan Al-qur’an yang selalu para anak lanturkan menjadi sebuah pondasi yang bisa menyelamatkan mereka dari keterpurukan dunia. Ayat-ayat tersebut merupakan tabungan untuk orangtua yang tak pernah putus mendoakan anak-anaknya. Orangtua lah yang selalu membuat kita(para anak) menjadi jera atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidup kita dulu, sekarang bahkan menjelang akhir kehidupan dunia. Tanpa mereka, kita tak ada apa-apanya. Dan tanpa mereka, kita tak mungkin terlahir ke dunia.

Ibu yang melahirkan seorang anak, tau persis bagaimana memperjuangkan seorang janin yang sudah dikandungnya. Lalu dia menjaga dengan penuh kehati-hatian. Sebab, dia tak ingin darah dagingnya yang sudah Allah amanahkan tergores oleh apapun. Dia merawat kandungannya selama 9 bulan, sabar menunggu calon anaknya yang lucu lahir melihat dunia. Betapa senangnya ketika anaknya lahir ke dunia dengan selamat dan sempurna. Tak kuasa air matanya terus mengalir bahagia menyambut sosok baru yang akan menjadikan dia seorang ibu sesungguhnya.

Ketika itu, ibu masih merasa bingung karena selalu, selalu dan selalu anaknya terbangun dikala haus, selalu terbangun di tengah kesunyian malam, selalu terbangun dikala seorang ibu sudah lelah mengurusnya dan dikala ibu harus memejamkan matanya sebentar. Masa itu adalah masa dimana kita seorang anak harusnya tau bahwa ibu lah yang berjiwa besar, dia lah yang berjiwa sabar. Kesabarannya takkan bisa terbayar oleh apapun juga.

Hari demi hari anaknya bertambah besar. Tumbuh dengan jiwa yang sehat karena ibu selalu memberikan makanan yang tinggi gizinya untuk anaknya. Walaupun mungkin uang belanjanya tak cukup untuk membeli lauk yang mahal, setidaknya ibu sudah berusaha membelikan makanan yang banyak gizinya. Meskipun murah, namun masih bersyukur karena Allah telah memberikannya seorang anak yang bisa membuatnya lebih tegar hidup di dunia. Tak ada satu pun yang bisa menggantikan seorang anak dan tak ada satu pun yang bisa menggantikan seorang ibu.

Waktu terus dan terus berlalu. Ketika anaknya tumbuh menjadi dewasa. Yang bisa mengganti pekerjaan ibu/bapaknya, membantu memenuhi kebutuhan mereka. Namun, apakah  orangtua bangga karena anaknya selalu memberikan uang, uang dan uang? Walaupun uang tersebut dapat dibelikan apapun atau untuk kebutuhan hidup, tapi jangan merasa bangga. Karena anak yang sholeh/sholehah yaitu anak yang memberinya bekal untuk akhirat bukan malah dunia. Jika anak senantiasa terus menerus memberikan uang yang banyak tapi tak bisa menopang kehidupan akhirat, bagaimana bisa anaknya menyelamatkan orangtuanya dari neraka? Apakah uang dapat membeli neraka? Apakah Allah dengan senang hati menjual surga atau bahkan neraka?

Sesungguhnya, anak-anak yang baik adalah anak-anak yang selalu menuntun orangtuanya untuk menemukan jalan ke surga. Dengan doa, bacaan Al-qur’an, sholat dan perintah lainnya yang Allah serukan untuk kita, kita jalankan dengan penuh keikhlasan. Kita sebagai seorang anak, terus..terus..dan terus berdoa untuk orangtua kita, untuk kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Meminta kepada Allah agar senantiasa melancarkan rezeki orangtua kita, selalu melindungi mereka dimana pun mereka berada dan memohon agar mereka dipanjangkan umurnya serta kesehatan yang sempurna.


Sebagai seorang anak yang ingin dibilang sholeh/sholehah, mari kita jadikan tingkah/tutur/hati yang bisa membuat para orangtua kita bangga memiliki kita. Baik prilaku yang membahagiakan mereka di dunia maupun di akhirat. Dari sekarang, kita tabungkan seluruh kebaikan untuk menyelamatkan orangtua kita menuju surga.

Selasa, 17 Juni 2014

Abang None Tak Sampai

Intinya ini Abang None yang tertunda hahahaha ngakak.

Hunting


Sabtu, 26 April 2014

Hormatilah Orangtuamu Semasih Dia Hidup




Seperti yang kita ketahui bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpa adanya orang disekelilingnya. Perjuangan seseorang tidak akan menjadi sebuah kesuksesan tanpa adanya dukungan dari keluarga terutama orang tua. Tetapi pada zaman sekarang ini hampir setiap orang tidak memberlakukan orang tua secara baik. Padahal orang tua adalah sumber dari amanat tuhan yang harus dijadikan seperti raja dan ratu bukan sebaliknya.

Seorang laki-laki yang berusia sekitar 15tahun ini sering memberlakukan orang tuanya seperti budak yang tidak pantas untuk ditiru. Setiap hari ibunya yang hanya seorang pedagang kue keliling harus melayani anaknya setiap waktu. Jika ibunya tidak melayani, anak itu tidak segan memukul bahkan menendang ibunya sampai terjatuh. Ayahnya yang hanya seorang petani di sawah milik tetangga tidak mengetahui ibunya dijadikan budak setiap hari. Yang ayahnya tahu, anaknya selalu bersikap manis setiap dia bertanya.

Tak lama kemudian, ketika ayahnya pulang tidak seperti biasanya(lebih awal), dia melihat isterinya sedang diperbudakkan oleh anaknya. Setelah dia masuk ke dalam rumah, dia tak segan-segan memukul anaknya dan berkata”kau apakan ibumu itu?”. Lalu anaknya menoleh dengan keadaan panik dan menjawab”ti..dak yah, aku hanya memberi pelajaran bagi ibu, dia tidak becus mengurusku yah”. Ayahnya menjawab lagi “tidak becus bagaimana maksudmu? Apa kamu tidak bisa mengurus dirimu sendiri? Kamu sudah cukup besar nak, ibumu sudah terlalu lelah mencari uang untuk menutupi penghasilan ayah. Seharusnya kamu mengerti itu”.

Anaknya pun menjawab dengan nada keras”Apa kata ayah? Walaupun ia mencari uang tetapi tetap saja aku tak punya apa-apa. Aku malu yah.. maluuuu. Teman-temanku lebih layak kehidupannya dibanding aku. Apa aku salah jika aku menyuruh ibu untuk melayani apa yang aku mau?”. Lalu ibunya membela anaknya dan berkata”Sudah yah ini memang sudah menjadi kewajibanku untuk melayani anak kita. Biarkan saja dia menyuruhku selagi aku mampu. Jika aku sudah tiada, pasti dia tidak menyuruh ibu lagi”.

Anaknya pun sangat tersentuh mendengar kata-kata ibunya. Ketika anaknya ingin berbicara, ayahnya menoleh ke isterinya dan berkata”Tidak pantas kau berbicara seperti itu. Seandainya aku tau dari awal bahwa anak kita sudah mendurhakai seseorang yang telah mengandungnya selama 9bulan, bahkan selalu setia menemani dia setiap dia menangis di tengah malam, aku tak habis fikir. Salah apa kita sampai mempunyai anak yang tak tahu berterima kasih.”

Lalu anaknya pun meminta maaf kepada ibunya dan menyadari perbuatannya. Sungguh tak ada yang lebih berharga dari keluarga. Karena mereka selalu berada di samping kita dalam suka dan duka. Janganlah kalian mendurhakai orangtua terutama ibu, karena ridho Allah tergantung ridho orangtuamu......
@viaaaSY